Selamat Datang

di

KULIAH metode"C.H.A.T"

CEPAT_HEMAT_AKRAB_TERPADU

Membanggakan Kesuksesan orang lain, jauh lebih buruk daripada menyesali Kegagalan sendiri. Jadilah pribadi yang mandiri, tinggalkan Kegagalan, kejarlah Sukses dengan belajar.

Your good deeds are not the reason of others to respect you. Mistakes of others is not also a reason for you to punish him

[by : Parel]

Aura Pemimpin


Sikap seorang pemimpin




Sikap adalah pola-pola yang mendasari perilaku.

Asalnya, 
Pertama, sebagian besar dari pola-pola merupakan hasil dari pengaruh proses belajar.
Kedua, seringkali suatu pola perilaku menjadi bagian dari diri seseorang tanpa disadarinya. 

SIKAP KEPEMIMPINAN YANG BAIK:

Pertama, mereka sangat kentara dalam sikap pengendalian diri untuk mengatasi kecenderungan manusiawi-nya.

Kedua, kerangka pendekatan para pemimpin sangat berbeda dari orang di sekitarnya.

Ketiga, dengan meneliti hidup tokoh-tokoh yang mempengaruhi sejarah manusia dapat disimpulkan bahwa mereka sangat bekerja keras dan menyadari daya pengaruh yang ada di dalam diri mereka.

Keempat adalah, bagaimana sebagian besar tokoh-tokoh yang berhasil mengubah hidup dan meninggalkan jejak yang dalam cenderung memiliki dapat meletakkan diri pada posisi orang lain. Mereka memiliki kepekaan pada apa yang orang butuhkan, rasakan, dan tanggung.

Kelima adalah pola yang mungkin tidak banyak teramati, yaitu mereka memperhatikan hal-hal yang kecil dan terus memperbaiki apa yang telah mereka capai dengan konsisten.

Keenam, para tokoh merupakan orang yang sangat teratur dan berdisiplin menangani dirinya sendiri.

Ketujuh, para pemimpin memiliki sikap tegas dan berani memberi arah. 

Skil seorang pemimpin

Dalam bahasa Inggris, keterampilan adalah sesuatu yang dapat Make things happen. Sesuatu yang terjadi, diolah, atau diubah tadi dapat berupa hubungan antar rekan, cara kerja, cara ber-organisasi, bangunan, dana, informasi, dan sebagainya.

Pertama: jenis-jenis keterampilan untuk merumuskan apa yang mau dicapai bersama dalam jangka pendek.

Kedua: jenis-jenis keterampilan dalam proses mengajak orang lain untuk menyusun tahap-tahap kerja sama serta pelaksanaannya

Ketiga: jenis keterampilan untuk mengelola diri sendiri dan memberikan kontribusi yang tepat pada waktu yang tepat. 

Pemimpin dan sensitivitasnya

A system with high adaptive capacity exerts co...Image via WikipediaKepekaan ini hanya muncul kalau seorang pemimpin senantiasa peka terhadap dinamika yang ada di dalam dirinya sendiri. Tanpa kepekaan ini ia akan mudah jatuh ke dalam bias dalam menangkap hal-hal di sekitarnya.

Pertama, kepekaan atas asumsinya tentang gambar dunia atau kepekaan pada world view nya. Untuk mengasahnya, RUMUSKANLAH PANDANGAN ANDA TENTANG DUNIA DAN HIDUP:

Kedua adalah bahwa seorang pemimpin harus peka tentang apa yang ia anggap bernilai di dalam hidup. RUMUSKAN APA NILAI TERTINGGI BAGI ANDA ....................................

Ketiga, seorang pemimpin juga perlu peka terlebih dahulu pada kadar harga diri dan gambar dirinya. HAL–HAL APA YANG DAPAT  MENGGANGGU HARGA DIRI ANDA? .....................

Keempat, ia perlu peka juga terhadap ambisi dan kebutuhan diri pribadinya. COBA RUMUSKAN VISI DAN MISI HIDUP ANDA----------------------------------------------------------------

Memahami nilai-nilai diri sendiri

Nilai-nilai adalah hal-hal yang teramat penting dan berharga untuk seseorang pemimpin yang ingin dicapainya dalam hidup. Hal yang paling bernilai bagi seorang pemimpin tertentu mungkin adalah memiliki kekayaan karena kekayaan membuatnya merasa aman dan terjamin dalam hidupnya. Yang lain mungkin berpendapat bahwa hal yang paling bernilai adalah menaklukkan saingan-saingannya, menjadi nomor satu. Ada pula orang yang mengejar popularitas, karena dapat membuatnya merasa unggul dibandingkan dengan orang lain dan keunggulan tadi merupakan hal yang paling bernilai baginya. Meskipun nilai berbeda-beda, semua orang memiliki kesamaan, yaitu mereka berani mempertaruhkan tenaga, waktu, pikiran atau harta demi mengejar apa yang dianggapnya bernilai itu.

Nilai mempengaruhi sikap dan perilaku seorang pemimpin. Nilai-nilainya mempengaruhi secara langsung sensitivitasnya sebagai pemimpin karena nilai-nilai dapat membuatnya peka pada keragaman nilai dan perilaku yang ada serta interaksinya, namun nilai-nilainya dapat pula membuatnya tidak peka bahkan berprasangka pada perilaku, sikap dan nilai yang berbeda dengan apa yang ia miliki.

Pernahkah Anda mendengar bagaimana seorang menemukan sebuah intan di ladang sewaan yang digarapnya? Ia menjual seluruh harta bendanya untuk membeli ladang itu. Baginya intan tersebut sangat bernilai, bahkan ia rela mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya.

Berbagai peneliti telah menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal apa saja yang dianggap bernilai oleh manusia. Ada yang memberikan ratusan jenis nilai sebagai nilai-nilai yang ada di tengah masyarakat manusia. Ada pula yang hanya membatasi sampai beberapa puluh. Muncullah berbagai teori nilai.

Penelitian yang cukup dikenal menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat empat nilai pokok yang menjadi pengarah hidup manusia. Selanjutnya berawal dari keempat pokok nilai tersebut, muncullah sepuluh nilai yang dianut manusia. Bersama dengan gambaran tentang dunia, nilai-nilai menjadi akar dari perilaku seorang pemimpin. 

Untuk memahami pengertian nilai secara lebih dalam, berikut ini akan disajikan sejumlah definisi nilai dari beberapa ahli.

Nilai adalah keyakinan yang langgeng dari seseorang bahwa suatu jenis keberadaan atau keadaan yang diharapkan secara pribadi maupun sosial dianggap lebih diinginkan daripada jenis keberadaan yang bertentangan dengannya.
(Value is an enduring belief that a spesific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence) (Rokeach, 1973: halaman 5)

Nilai adalah keyakinan umum tentang cara-cara dan tujuan-tujuan yang diinginkan (Value is a general beliefs about desireable ways of behaving and about desirable or undesireable goals or end-state) (Feather, 1994: halaman 1884)

Nilai adalah tujuan transisionil yang diinginkan meskipun tingkat kepentingannya berbeda-beda. Nilai menjadi pedoman dalam hidup seseorang atau sosial. (Value as desireable transsituational goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of a person or other social entity) (Schwartz,1994: halaman 21)

Lebih lanjut Schwartz pada tahun 1994 juga menjelaskan bahwa nilai adalah: suatu keyakinan, berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, melampaui atau tidak dibatasi oleh situasi tertentu, mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai yaitu: suatu keyakinan yang berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi, disimpulkan bahwa hal-hal yang dianggap bernilai ini adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan oleh seorang pemimpin. Tatanan nilai tadi, baik pribadi maupun kelompok, digariskan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.


Dari hasil penelitiannya di 44 negara, Schwartz pada tahun 1994 berhasil menggali 10 tipe nilai yang dianut oleh manusia, termasuk para pemimpin yaitu:

1.    Kuasa (Power). Pemimpin yang memegang nilai ini menganggap bahwa apa yang paling bernilai bagi mereka adalah memiliki pengaruh pribadi. Dasar dari nilai ini adalah kebutuhan untuk memiliki dominasi dan kontrol. Tujuan utama pemimpin yang mementingkan nilai ini adalah pencapaian status sosial dan prestise, serta memiliki kontrol atau dominasi terhadap orang lain atau sumber daya tertentu. Nilai spesifik yang mendapat urutan tinggi bagi mereka adalah kuasa sosial, wewenang, kekayaan, pandangan sosial, dan penghargaan masyarakat.
2.  Pencapaian (Achievement). Pemimpin yang memegang nilai ini mengganggap bahwa mencapai sesuatu hal secara sengaja merupakan keutamaan. Dengan kata lain, bagi mereka hal yang penting adalah pencapaian dengan menunjukkan kompetensi sesuai standar sosial. Unjuk kerja yang kompeten nilai tertinggi bagai mereka. Secara khusus, orang yang menganut nilai ini mengejar sukses, dan kapabilitas.
3.  Kenyamanan-kenikmatan (Hedonism). Pemimpin yang menekankan nilai ini sangat memperhatikan kebutuhan dan kenikmatan fisik. Mereka yang sangat mementingkan nilai ini mengutamakan kesenangan, kenyamanan, dan kepuasan untuk diri sendiri.
4.  Rangsangan (Stimulation). Pemimpin yang menekankan tipe nilai ini memiliki kebutuhan akan variasi dan rangsangan untuk menjaga agar aktivitasnya tetap pada tingkat yang optimal. Rangsangan biologis dianggapnya perlu untuk mempengaruhi variasi kebutuhan, ditambah pengaruh pengalaman sosial. Tujuan pencapaian hidup bagi mereka adalah kegairahan dan mencari tantangan dalam hidup. Pemimpin yang memiliki nilai ini sering muncul sebagai orang yang ingin memiliki variasi, hidup yang menarik dan keberanian bertualang.
5.   Pengarahan diri sendiri (Self-direction). Bagi pemimpin yang memiliki nilai ini, tujuan utama yang dikejarnya adalah memiliki pikiran dan tindakan yang tidak terikat (independen),  seperti memilih, mencipta, menyelidiki secara kreatif. Self-direction bersumber dari kebutuhan akan kontrol dan penguasaan (mastery), serta kebebasan berinteraksi dan ketidakterikatan. Wujud dari hal-hal yang mungkin dikejar pemilik nilai ini adalah kreativitas, keingintahuan, kebebasan, pemilihan tujuan sendiri serta keleluasaan.
6.  Universalisme. Pemimpin yang memiliki tipe nilai ini menekankan kematangan dan tindakan prososial, artinya hal-hal yang membuat umat manusia menjadi semakin berkualitas. Mereka mengutamakan pentingnya saling menghargai, toleransi, memahami orang lain, dan perlindungan terhadap kesejahteraan umat manusia. Pemimpin yang memiliki tipe nilai ini menganggap amat bernilai untuk berpikiran luas, serta mencipta keadilan, kesamaan, kebijaksanaan, dan keseimbangan diri.  
7.    Kebajikan (Benevolence). Pemimpin dengan nilai kebajikan ini mirip dengan mereka yang menekankan tindakan prososial. Bila mereka yang prososial menekankan kepada kesejahteraan semua orang di semua kondisi, penganut nilai kebajikan mengarahkan tindakannya kepada orang lain yang dekat dengannya. Nilai ini dapat berasal dari dua macam kebutuhan, yaitu kebutuhan interaksi yang positif untuk mengembangkan kelompok dan kebutuhan sebagai organisme untuk berafiliasi. Motivasi pemimpin dengan tipe nilai ini adalah peningkatan kesejahteraan individu yang terlibat dalam kontak personal yang intim dengannya. Mereka akan suka membantu, serta menekankan kejujuran, pengampunan, kesetiaan, persahabatan dan kasih yang dewasa, namun ditujukan hanya pada kalangan dekat saja, seperti teman, keluarga, dan warga dari suku yang sama serta agama yang sama.
8.  Tradisi (Tradition). Setiap kelompok masyarakat mengembangkan simbol-simbol dan tingkah laku yang merepresentasikan pengalaman dan nasib mereka bersama. Sebagian besar tradisi diambil dari ritus agama, keyakinan, dan norma bertingkah laku. Pemimpin yang menekankan nilai tradisi bertujuan untuk menjaga adanya penghargaan, komitmen, dan penerimaan terhadap kebiasaan, tradisi, adat istiadat, atau agama. Mereka menekankan sikap rendah hati, pengabdian, menerima posisi hidup, jalan tengah, serta hormat pada tradisi.
9.  Konformitas. Tujuan dari pemimpin yang mementingkan tipe nilai ini adalah pembatasan terhadap tingkah laku dan kungkungan terhadap dorongan-dorongan individu yang dipandang tidak sejalan dengan harapan atau norma sosial. Mereka berusaha untuk mengurangi perpecahan sosial saat interaksi atau ketika fungsi kelompok tidak berjalan dengan baik. Pemimpin yang menekankan nilai ini mengutamakan kesopanan, kepatuhan, penghormatan pada orang tua, serta disiplin diri.
10.  Keamanan (Security). Tujuan pemimpin dengan nilai ini adalah mengutamakan keamanan, harmoni, stabilitas masyarakat, hubungan antar manusia, dan hubungan dengan diri sendiri. Asal nilai ini merupakan pencapaian dari dua minat, yaitu minat sebagai individual dan sebagai bagian dari komunitas. Wujud nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah keamanan nasional, tatanan kemasyarakatan, kebersihan, kesehatan, saling membantu, keamanan keluarga, dan rasa tergabung/berafiliasi.
Keseluruhan nilai-nilai tadi masih dapat diklasifikasikan dengan lebih sederhana sebagai berikut:

 *      Nilai-nilai yang menekankan keluhuran
 *    Nilai-nilai yang menekankan tradisi dan kelanggengan
 *      Nilai-nilai yang menekankan keunggulan dan
 *      Nilai-nilai yang menekankan ekplorasi.

Apa gunanya pemetaan di atas?

Untuk memperjelas nilai yang dianut seorang pemimpin. Dengan jelas dimana ia berdiri ia dapat menjadi peka atas biasnya dan bias orang lain. Pemimpin yang memiliki sensitivitas adalah orang yang tahu dengan jelas nilai-nilai yang dianutnya dan bersedia untuk merombaknya dimana perlu. Ia dengan mudah juga menjadi peka atas nilai-nilai yang dimiliki orang lain, baik nilai yang berbeda maupun yang sama dengan nilai-nilai yang ia anut.


Peka pada Harga diri

Gambaran seorang pemimpin tentang dunia dan nilainya akan menentukan sensitivitas dirinya. Namun masih ada hal lain yang ikut berpengaruh, yaitu gambar diri dan harga diri. Gambar diri adalah pemahaman pribadi akan diri seseorang yaitu hal-hal apa yang akan membuatnya semakin merasa berharga atau tidak. Gambar diri ini juga akan mempengaruhi konsep seorang pemimpin mengenai harga dirinya. Bila ia menggambarkan dirinya sebagai seorang cendekiawan, hal-hal yang meningkatkan harga diri ini mungkin adalah buku-buku yang dibaca dan ditulisnya, seminar yang dihadiri, dan riset-riset yang telah ia lakukan.


Harga diri mempengaruhi seorang pemimpin dalam menentukan hal-hal yang di-anggapnya mempermalukan dirinya atau sebaliknya hal-hal yang membuatnya merasa semakin dihormati. Dalam bentuk yang sempit, seringkali harga diri merupakan hal yang sangat subyektif atau primordial. Akibatnya, orang yang memiliki konsep harga diri yang sempit mudah tersinggung, siap mati, dan mengadu nyawa demi menjaga harga dirinya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang arif dan memiliki konsep gambar diri yang luas, melihat bahwa kemampuan untuk berlaku bijak merupakan hal utama dalam menambah harga dirinya.

Bagi orang yang mengerti peranan diri dan statusnya dalam dunia, faktor-faktor pendukung peningkatan harga dirinya tidak akan sama dengan orang lain. Harga diri yang sempit merupakan batasan konsep yang ditentukan persepsi pemiliknya terhadap sikap orang lain padanya, sedangkan harga diri yang luas ditentukan oleh kendali kejiwaan pribadi orangnya.

Kebutuhan adalah kesenjangan antara persepsi akan kondisi yang seharusnya dibandingkan dengan keadaan nyata. Atas pengaruh harga diri, dapat timbul kebutuhan bendawi atau kebutuhan emosional, kebutuhan pengalaman tertentu, dan kebutuhan spiritual yang bila dicapai akan memperkuat harga diri tadi. Dengan demikian, sebagian besar kebutuhan dipengaruhi harga diri. Pengenalan akan ambisi seseorang akan menolongnya menjadi sensitif terhadap segala akibat dari ambisinya serta memampukannya mengenali ambisi orang lain juga. 

Ambisi Sehat dan Tak Sehat

Ambisi yang sehat adalah ambisi yang bila tercapai menghasilkan hal yang baik, tidak hanya bagi sebagian besar anggota masyarakat, tetapi juga bagi si pemilik ambisi tadi. Ambisi yang sehat juga merupakan ambisi yang sesuai dengan kodrat manusiawi Kodrat manusia, hadir di dunia untuk memenuhi suatu tugas tertentu yang diberikan Penciptanya, merujuk pada pemberianNya akan pemenuhan sebuah proses, yaitu transformasi. Sebaliknya suatu ambisi yang tidak sehat seringkali menghasilkan efek samping yang merugikan semua pihak, bahkan mencegah tugas tadi terselesaikan. Akibatnya, orang yang ia sayangi atau masyarakat di sekitarnya menjadi penderita efek samping tadi, entah berupa stagnasi, atau kehancuran.


Peka pada Keserasian Kebutuhan dengan Gambar diri Pakhom, seorang petani di Rusia merasa jengkel karena orang lain lebih berhasil daripadanya. Ia merasa dirinya sangat miskin. Rumahpun tidak dimilikinya. Seringkali ia mengeluh, "Kalau saja ia memiliki sepetak tanah dan bukan hanya bekerja sebagai penggarap ladang orang …" Aku ingin punya rumah. 


Daftarkan hal-hal yang Anda rasa tidak selaras dalam diri Anda, yaitu antara gambar hidup, gambar diri, nilai, dan ambisi serta visi Anda.

----------------------------------------------------------------------------------------------

sebelum mencari contoh teladan orang yang berambisi dan berhasil, atau mencari berbagai ilmu tentangnya, terlebih dulu kita perlu memeriksa diri atas semua pemberian yang sudah dimiliki dan yang masih belum lengkap, serta arah yang Sang Pencipta ingin kita tempuh.

Renungkan cerita di atas, hubungkan dengan keseluruhan apa yang telah Anda pelajari dan catat di sini apa yang Anda akan ubah dengan diri Anda:
------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------

Share this article :
 

+ komentar + 1 komentar

Senin, Januari 16, 2012

keren pak tulisannya,.. :)

Poskan Komentar

Saran-Kritik-Komentar Anda sangat bermanfaat.
Terima Kasih Telah Bergabung.

Info Terkait

Pengikut

 
Creating Website : Johny Template - Mas Template
Copyright © 2011. KULIAH via BLOG - All Rights Reserved
Template Created n Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger