Selamat Datang

di

KULIAH metode"C.H.A.T"

CEPAT_HEMAT_AKRAB_TERPADU

Membanggakan Kesuksesan orang lain, jauh lebih buruk daripada menyesali Kegagalan sendiri. Jadilah pribadi yang mandiri, tinggalkan Kegagalan, kejarlah Sukses dengan belajar.

Your good deeds are not the reason of others to respect you. Mistakes of others is not also a reason for you to punish him

[by : Parel]

Uang atau Produk ? [The AURA's Man-III]

The proton with angular momentum P and magneti...Image via Wikipedia
Hasil dari Aura Manusia

Barangkali uraian-uraian diatas belum cukup menjelaskan bahwa permasalahan pokok yang seharusnya menjadi perhatian penting dalam persoalan kebutuhan masyarakat adalah Produk.
Rumusan masalah yang ideal adalah


Produk Apa? Bagaimana? Untuk Siapa?

Produk dari suatu Negara mampu memenuhi kebutuhan masyarakat karena bangsanya mampu membuat produk yang handal. Produknya handal karena bangsanya memiliki sumberdaya yang unggul. Mereka unggul karena Bangsa itu mampu membangkitkan 'daya aura' manusianya.

Daya aura itu adalah suatu rangsangan, dorongan atau kekuatan yang menyatu dalam diri manusia sehingga mampu menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan banyak orang dengan memuaskan.

Jawaban yang tepat atas permasalahan : produk Apa? Bagaimana? Untuk Siapa?, tergantung pada kemampuan manajerial dari pengambil keputusan, dan tidak bisa tidak, harus memilih.

Semasa di negeri seberang Malaisya, mantan PM Mahatir Muhammad memilih ’PROTON’ menjawab ’produk APA’. Proton yang bukan uang ini memang dinamai serupa dengan suatu kandungan listrik yang dihasilkan PLN. Proton merupakan mobil sedan kelas bawah yang mampu menjelajahi jalanan di berbagai kota di Indonesia bahkan mampu memasuki pasar Internasional. Sebaliknya,...jangan sinis, PLN juga menjadi perhatian Internasioanal, bukan karena listrik terkait dengan kandungan proton, atau karena kemandekannya menjelajah ke beberapa kota di Indonesia alias pemadaman bergilir, tetapi karena ’inefisiensi’ atau pemborosan (Ironisnya mereka selalu meneriakkan konsumennya untuk tidak boros listrik).

Untuk menjawab pertanyaan BAGAIMANA, Sang PM memilih ’teknologi yang kolaboratif dengan Jepang’ Ini terkait dengan proses produksi, dimana sumber-sumberdaya dipadukan dengan teknologi tingkat tertentu sebagai sistem transformasi dalam menghasilkan produk. Teknologi itu adalah suatu rangkaian atau mekanisme atau cara kerja yang saling terkait dan berkesinambungan secara terstruktur.

Barangkali, beliau berfikir sederhana dengan hanya mencontoh tehknologi cangggih Jepang, dapat menghasilkan produk-produk yang mampu menyamai posisi 'hampir' sekaliber Eropa. Mungkin juga kepeduliannya sangat peka, karena sadar bahwa tenaga kerja negaranya sudah lama akrab dengan produksi Jepang, sehingga memudahkan mereka belajar atau menyesuaikan diri.Atau mungkin saja beliau beranggapan bahwa ’teknologi Malaisya’ yang canggih dalam menghasilkan ’layangan’ kurang intelek dalam pembuatan pesawat terbang sejenis CN. Bahkan mungkin saja beliau rendah hati dan prihatin dengan beban yang dialami sopir taksi Indonesia bangsa dari negara tetangganya yang hampir ’celaka’ untuk mengejar setoran.

Quark structure of protonImage via WikipediaAkhirnya, jawaban beliau atas masalah UNTUK SIAPA....Dia putuskan untuk berpihak kepada sebagian besar masyarakatnya, yaitu konsumennya, pekerjanya, penjualnya, tambahan devisa negaranya dan seterusnya. Hampir semua memuaskan masyarakatnya, bahkan yang pasti membantu sebagian sopir taksi di Indonesia yang bukan bangsa Malaisya.

Barangkali juga beliau cepat belajar dari Prof Brilian WNI yang bukan gurunya, atau mungkin dia masih ingat pelajaran dari pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa dari Indonesia yang dulu mengajari kebanyakan masyarakat Malaisya, sehingga dia paham betul bahwa
'Produk mobil sedan sederhana jauh lebih bermanfaat untuk memuaskan masyarakatnya. Layangan memang sering dipertandingkan di Malasya sebagai produk jasa wisata, tetapi jiwa kerakyatannya menuntun kebijakan yang tidak men-’tehnologi’-kan layangan menjadi pesawat sejenis CN, karena seorang presiden Indonesia sekalipun belum pernah membeli pesawat apalagi masyarakat yang hampir melarat.

Jelas bahwa KETEPATAN SOLUSI atas tiga masalah pokok tersebut hampir identik dengan kemanusiaan seseorang. Tegasnya, manusialah yang mampu menjawab masalah itu, karena uang tidak bisa berfikir atau belajar, tidak bisa bicara atau melatih, tidak bisa bekerja apalagi memberikan solusi. Orang bisa berkilah dengan alasan ’hoki’, kebetulan, nasib, bahkan politisasi.

Betul bahwa sumberdaya lain ’non manusia’ akan mendukung, namun yang jelas, pengambil keputusan yang utama pastilah manusia. Kemampuan manajerial dapat lebih baik kalau daya manusianya dibangun. oLEH KARENA itu, tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa
”Berhasil tidaknya pembangunan suatu negara tercermin dari cara negara itu membangunkan daya manusianya, sebagai sumber aura yang mengenghasilkan produk”.

Mengapa?
Karena manusia merupakan sumberdaya yang unik dan khas, memiliki daya yang luar biasa, diluar dugaan dan hampir mendekati misterius. Daya manusia sempurna, dengan tingkat yang sulit diterima akal tetapi nyata. Nyata karena produk-produk yang dihasilkan manusia memberi kenikmatan yang unik dan khas juga bagi konsumennya. Walaupun sebenarnya kenikmatan yang dirasakan oleh konsumen merupakan sesuatu yang ’maya’ yang dinamai ’kepuasan’, tetapi konsumen dengan tulus menghayati kepuasan itu menjadi sesuatu yang selalu melekat dalam kenikmatan pemikirannya.

Pada tingkat kepuasan seperti itulah produk menjadi citra yang membanggakan, bahkan mengidentikkan dirinya dengan produk yang dikonsumsinya. Produk seperti itu merupakan daya dari dan oleh manusia sebagai sumber. Produk seperti itu disebut cemerlang karena mampu memancarkan sesuatu yang lebih unik dari sekedar wujud barang atau jasa.

Pancaran itu merupakan sinar yang merangsang kepuasan yang ’maya’. Rangsangan kepuasan itu membuat konsumennya merasa lebih baik dari sebelumnya. Sinar seperti itulah yang bersumber dari AURA MANUSIA.

Disebut AURA, karena sangat sensitif dengan kepuasan manusia yang selalu berubah. Aura itu sesuatu yang ’maya’ tetapi melebur dalam diri manusia seutuhnya. Seutuh manusia apa adanya,.... sebagai dirinya sendiri, tetapi selalu berinteraksi dengan lingkungannya yang juga berubah.

Paling tidak produk aura manusia ini hampir mengisi aneka produk untuk hampir semua kebutuhan konsumennya, seperti : sepatu, tas, baju, gasper, bedak, farfum, mi instan dan sebagainya. Sebut saja produk-produk dengan label : Carvil, Capriasi, Oriflame, Giovani, Elisabet, dan sebagainya. Jadi, Aura manusia itu sesuatu yang lebih dari sekedar uang.

Dengan demikian, aura manusia juga unik dan khas. Aura manusia inilah yang berperan aktif menentukan kebutuhan manusia sekaligus produk pemuasnya. Sehingga aura manusia yang ’maya’ ini juga melebur dan dapat dirasakan manusia dari produk yang dikonsumsinya.

Aura manusia ini berperan aktif memuaskan kenikmatan manfaat produk bagi konsumennya bahkan mampu membentuk seuatu yang lebih dari sekedar kepuasan atas barang atau jasa yang dikonsumsi. Karena kepuasan yang dibentuk Aura manusia itu diwujudkan menjadi suatu slogan atau motto nyata dalam menentukan produk lain yang dibutuhkannya, bahkan sebagai sesuatu kebanggaan yang dianggap membuatnya lebih baik dari orang lain.

Mau Membangun Sumberdaya Manusia?,,,,,bangkitkan AURA mu!
Share this article :
 

Poskan Komentar

Saran-Kritik-Komentar Anda sangat bermanfaat.
Terima Kasih Telah Bergabung.

Info Terkait

Pengikut

 
Creating Website : Johny Template - Mas Template
Copyright © 2011. KULIAH via BLOG - All Rights Reserved
Template Created n Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger